Senin, 01 Februari 2016

Cerita anak



ULAR TUA YANG LICIK

Dahulu kala ada seekor ular tinggal dalam sebuan hutan. Ular ini besar tapi ia berusia lanjut dan lemah. Kebanyakan pada waktu itu ia seringa kelaparan karena ia tidak dapat menangkap mangsanya lagi.

Suatu hari, ular tersebut mengembara untuk mencari makanan dan ia sampai pada sebuah telaga yang penuh dengan kodok.
“Kodok-kodok ini tampaknya lezat,” kata ular sambil menatapkanya.
“Aku berharap dapat menyantapnya”. Tetapi ketika ia datang mendekatinya, mereka semua melompat ke dalam dan lenyap.
“Aku harus memikirkan cara untuk menipunya,“ ia berpikir lagi si ular menutup matanya dan bergeletak diam.

Kodok-kodok melihat si ular tergelatak diam dan tak berkeinginan untuk mengejar meraka.
“Lihat ular itu tidak mencoba untuk menangkapkita, barangkali ia mati? Ayo kita lihat” Kata pangeran kodok.
“Jangan-jangan, putraku melakukannya. Ia mungkin akan menelanmu.” Kata sang Ratu kodok.
Tetapi sang pangeran kodok ta menghiraukan perataan ibunya. Ia mendekati ular tersebut, ketika si ular tak bergerak ia merasa sedikit lebih berani, lalu ia mendorong ular itu sedikit. Sang ular membuka matanya. Si pangeran kodok ketakutan dan cepat-cepat menyingkir.
“Jangan takut padaku, anakku, “ kata si ular “Aku tak akan menyakitimu. Dahulu, aku pernah mengigigit putra seorang pertapa. Sang pertapa sangat marah padaku dan mengutukku. Ia berkata aku harus melayani para kodok dengan menggendongnya berkeliling.
“Apa benar demikian?” Tanya pangera kodok yang bodoh itu mempercayai certa si ular.
“Ya, pangeran,” kata si ular merandahkan diri.
“Aku adalah pelayang paduka. Silahkan naik  punggung hamba”. Sang pangeran kodok menaiki punggung ular yang licik itu.
“Bawalah aku merayap menuju istana raja.”
“Turun dari ular itu segera,ja dan ratu“ teriak sang rajut melihat putranya mengunggangi ular.
“Ya bunda, jangan khawatir. Ular ini tak akan menyakiti kita,” kata pangeran kodok menceritakan seluruh pengalamannya.
“ Kalau demikian masalahnya kita akan senang mendapatkan tunggangan,” kata raja dan ratu kodok.
Mulut ular menjadi basah memikirkan kodok-kodok gemuk dan lezat yang menunggangi punggungnya. Tetapi isa sadar bahwa ia harus sabar.

Untuk beberapa hari sang ular membawa keluarga kerajaan kodok masuk dan keluar hutan. Suatu hari ia berhenti tiba-tiba.
“Ada apa?” Tanya pangeran kotok. “Mengapa kamu berhenti?”
“Selama beberapa hari ini aku belum makan aku  merasa sangat lemah menggendong kalian,” kata sang ular dengan sedih.
“Bila kalian menijinkan aku akan menyantap beberapa ekor kodok.”
“Bagaimana mungkin aku membiarkanmu memangsa rakyatku?” Tanya raja kodok yang kelihatan sangat kebingungan.
“Bila kalian tidak mengijikan aku akan segera mati dan kellian tak akan memiliki siapaun yang akan membawa kalian berkeliling,” kata ular itu.
“Kalau itu masalahnya, kamu boleh memangsa beberapa ekor kodok,” kata raja kodok.
Sang ular mulai menyantap kodok satu persatu. Berangsur-angsur ia menjadi bertambah kuat.

Suatu hari ular itu tanpak berkeliling mencari kosok tatapi tak menemukan seekorpun. Ia pergi menghadap raja dan berkata, “Tak ada seekor kodokpun yang masih tinggal dalam telaga ini,”
“Apa benar demikia?” Tanya raja kodok terkejut.
“Ya! Kata sang ular menjilat bibirnya.
“Aku telah memangsa semua kodok satu persatu. Aku merasa lapar sekarang ini, sehingga hari ini adalah giliranmu.”
“Apa? Beraninya kau hendak memakanku. Aku adalah raja kodok!” bentak sang raja kodok.
Namun sang ular tak peduli, tak ada yang ditakuti terhadap tiga ekor kodok itu dan ia langsung menyergap raja kodok, ratu dan pangeran kodok kecil.

3 komentar: