Deskripsi pengirin dari kliping gambar – gambar
pajangan, alat peraga dan penataan kelas
1.
Menata Pajangan Kelas
Bagaimana
Menata Pajangan?
Penataan
pajangan salah satu bentuk penataan kelas agar kelas tampak lebih indah, hidup
dan kaya akan sumber belajar. Banyak hal yang bisa dipajang diantaranya hasil
karya siswa, hasil karya guru dan barang cetak jadi yang dibeli dan bermanfaat
bagi siswa. Penataan pajangan hasil karya siswa adalah upaya untuk memberikan
penghargaan kepada hasil kerja mereka. Siswa juga terus termotivasi membuat
karya yang lebih baik. Oleh sebab itu keterampilan menata hasil karya siswa
sangat dibutuhkan oleh para guru. Kepala sekolah diharapkan dapat menjadi
motivator dalam kegiatan ini. Sebagai bahan pertimbangan penataan hasil karya
siswa, dibawah ini terdapat rambu – rambu yang dapat dijadikan pertimbangan
oleh para kepala sekolah dan guru di sekolah.
a.
Mengapa perlu ada pajangan di kelas ?
·
Membuat kelas lebih menarik
·
Anak mudah mendapat gagasan dari apa yang dipajangkan
·
Yang dipajangkan adalah contoh yang baik untuk diikuti
atau ditiru oleh anak lainnya.
·
Pajangan memotivasi anak yang pekerjaannya dipajangkan
dan juga memotivasi anak yang lain untuk mengerjakan hal yang sama.
b.
Apa saja yang bisa dipajang? Hasil kerja anak apa saja
yang akan dipajang?
·
ulisan anak seperti cerita, karangan, puisi, laporan,
buku yang dibuat oleh anak, model, grafik, gambar, dan hasil kerajinan atau
kesenian.
·
Hasil pekerjaan anak yang menunjukkan ada unsur
kreativitas dan menarik untuk dilihat dan dibaca sebaiknya dipajangkan.
·
Contoh-contoh hasil kerja anak yang baik untuk
dipajangkan
·
Kadang-kadang hasil kerja anak yang menunjukkan
perubahan bagi anak lambat sehingga
memotivasi mereka
·
Gambar, bagan, diagram, dan benda-benda yang relevan
dengan kegiatan yang sedang dibahas di kelas.
·
Bahan, sumber belajar, dan peralatan yang sedang
digunakan untuk kegiatan belajar.
·
Alat bantu hasil karya guru
·
Produk cetak jadi yang dibeli tetapi masih sesuai
dengan materi pelajaran.
c.
Apa yang seharusnya tidak dipajang?
·
Latihan rutin
·
Hasil kerja yang kurang benar atau tidak bagus untuk
contoh, misalnya tidak rapih atau tidak dikerjakan dengan hati-hati.
d. Bagaimana
cara menata pajangan?
·
Mudah dibaca oleh anak (tidak terlalu tinggi)
·
Pekerjaan anak hendaknya dipajangkan secara individual
dengan demikian dapat dibaca dengan mudah. Pajangan sebaiknya tidak bercampur
dengan yang lain atau tidak dalam bendelan.
·
Yang dipajangkan hendaknya dalam keadaan bersih,
rapih, dan menarik.
·
Benda yang dipajangkan dapat ditempel di dinding,
digantung di langit-langit ruangan, atau diatur di atas meja pamer.
·
Pajangan dapat diberi judul yang menarik dan mendorong
untuk baca.
e.
Kriteria apa yang digunakan untuk memajangkan hasil
kerja anak.
·
Apakah menarik bagi yang lain untuk dibaca?
·
Apakah contoh yang baik?
·
Apakah mengundang /menggoda orang untuk
memperhatikannya?
f. Berapa
lama/kali pajangan harus diganti?
·
Ketika sudah tidak menarik lagi
·
Telah menjadi kotor
·
Sudah ganti dengan tema baru
2.
Pengertian,
tujuan dan manfaat alat peraga
a.
Alat Peraga Pendidikan
·
Nasution, 1985 alat peraga pendidikan
adalah alat pembantu dalam mengajar agar efektif”.
·
Suhardi, 1978 Pengertian alat peraga
pendidikan atau Audio-Visual Aids (AVA) adalah media yang pengajarannya
berhubungan dengan indera pendengaran (
·
Amir Hamzah, 1981 bahwa Alat Peraga Pendidikan
adalah adalah alat-alat yang dapat dilihat dan didengar untuk membuat cara
berkomunikasi menjadi efektif”. Sedangkan yang dimaksud dengan alat peraga
menurut Nasution (1985: 95) adalah “alat bantu dalam mengajar lebih efektif”.
Dari uraian-uraian
di atas jelaslah bahwa pengertian alat peraga pendidikan adalah merupakan
segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dan dapat
merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa sehingga dapat
mendorong terjadinya proses belajar pada diri siswa.
b. Tujuan dan Manafaat Alat Peraga Pendidikan
Berikut ini beberapa
tujuan dan manfaat alat peraga
disebutkan sebagai berikut:
·
Alat peraga
pendidikan bertujuan agar proses pendidikan lebih efektif dengan jalan
meningkatkan semangat belajar siswa,
·
Alat peraga
pendidikan memungkinkan lebih sesuai dengan perorangan, dimana para siswa
belajar dengan banyak kemungkinan sehingga belajar berlangsung sangat
menyenangkan bagi masing-masing individu,
·
Alat peraga pendidikan
memiliki manfaat agar belajar lebih cepat segera bersesuaian antara kelas dan
diluar kelas, (d) alat peraga memungkinkan mengajar lebih sistematis dan
teratur.
Secara
ringkas, Proses pembelajaran memerlukan media yang penggunaannya diintegrasikan
dengan tujuan dan isi atau materi pelajaran yang dimaksudkan untuk
mengoptimalkan pencapaian suatu tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. Fungsi
media
pendidikan atau alat peraga pendidikan dimaksudkan agar komunikasi antara guru
dan siswa dalam hal penyampaian pesan, siswa lebih memahami dan mengerti
tentang konsep abstrak matematika yang diinformasikan kepadanya. Siswa yang
diajar lebih mudah memahami materi pelajaran jika ditunjang dengan alat peraga
pendidikan.
Secara jelas dan
terperinci, berikut ini adalah faedah-faedah atau manfaat dari penggunaan alat
bantu/peraga pendidikan yaitu antara lain sebagai berikut:
·
Menimbulkan minat
sasaran pendidikan ;
·
Mencapai sasaran yang
lebih banyak ;
·
Membantu dalam
mengatasi berbagai hambatan dalam proses pendidikan ;
·
Merangsang masyarakat
atau sasaran pendidikan untuk mengimplementasikan atau melaksanakan pesan-pesan
kesehatan atau pesan pendidikan yang disampaikan ;
·
Membantu sasaran
pendidikan untuk belajar dengan cepat dan belajar lebih banyak materi/bahan
yang disampaikan ;
·
Merangsang sasaran
pendidikan untuk dapat meneruskan pesan-pesan yang disampaikan pemateri kepada
orang lain;
·
Mempermudah penyampaian
bahan/materi pendidikan/informasi oleh para pendidik atau pelaku pendidikan ;
·
Mempermudah penerimaan
informasi oleh sasaran pendidikan. Seperti diuraikan di atas, bahwa pengetahuan
yang ada pada seseorang diterima melalui panca indera. Berdasarkan penelitian
para ahli, bahwa indera yang paling banyak menyalurkan pengetahuan ke dalam
otak adalah mata. Kurang lebih 75 % sampai 87 % dari pengetahuan manusia
diperoleh/disalurkan melalui mata. Sedangkan 13 % sampai 25 % lainnya diperoleh
atau tersalur melalui indera yang lain. Dari sini dapat disimpulkan bahwa
alat-alat peraga/media/alat bantu visual akan lebih mempermudah cara
penyampaian dan penerimaan informasi atau bahan atau materi pendidikan ;
·
Dapat mendorong
keinginan orang untuk mengetahui, kemudian lebih mendalami, dan akhirnya
mendapatkan pengertian yang lebih baik. Orang yang melihat sesuatu yang memang
diperlukan tentu akan menarik perhatiannya. Dan apa yang dilihat dengan penuh
perhatian akan memberikan pengertian bru baginya, yang merupakan pendorong
untuk melakukan atau memakai sesuatu yang baru tersebut ;
·
Membantu menegakkan
pengertian/informasi yang diperoleh. Sasaran pendidikan di dalam memperoleh
atau menerima sesuatu yang baru, manusia mempunyai kecenderungan untuk
melupakan atau lupa. Oleh sebab itu, untuk mengatasi hal tersebut, AVA (Audio
Visual Aid – alat bantu/peraga audio visual) akan membantu menegakkan
pengetahuan-pengetahuan yang telah diterima oleh sasaran pendidikan sehingga
apa yang diterima akan lebih lama tersimpan di dalam ingatan
3.
Penataan Ruang Kelas
Pembelajaran
yang efektif dapat bermula dari iklim kelas yang dapat menciptakan suasana
belajar yang menggairahkan, untuk itu perlu diperhatikan pengaturan/ penataan
ruang kelas dan isinya, selama proses pembelajaran. Lingkunagan kelas perlu
ditata dengan baik sehingga memungkinkan terjadinya interaksi yang aktif antara
siswa dengan guru, dan antar siswa.
Ada beberapa
prinsip yang perlu diperhatikan oleh guru dalam menata lingkungan fisik kelas
menurut Loisell (Winataputra, 2003: 9.22) yaitu:
- Visibility ( Keleluasaan Pandangan)
Visibility
artinya penempatan dan penataan barang-barang di dalam kelas tidak mengganggu
pandangan siswa, sehingga siswa secara leluasa dapat memandang guru, benda atau
kegiatan yang sedang berlangsung. Begitu pula guru harus dapat memandang semua
siswa kegiatan pembelajaran.
- Accesibility (mudah dicapai)
Penataan
ruang harus dapat memudahkan siswa untuk meraih atau mengambil barang-barang
yang dibutuhkan selama proses pembelajaran. Selain itu jarak antar tempat duduk
harus cukup untuk dilalui oleh siswa sehingga siswa dapat bergerak dengan mudah
dan tidak mengganggu siswa lain yang sedang bekerja.
- Fleksibilitas (Keluwesan)
Barang-barang
di dalam kelas hendaknya mudah ditata dan dipindahkan yang disesuaikan dengan
kegiatan pembelajaran. Seperti penataan tempat duduk yang perlu dirubah jika
proses pembelajaran menggunakan metode diskusi, dan kerja kelompok.
- Kenyamanan
Kenyamanan
disini berkenaan dengan temperatur ruangan, cahaya, suara, dan kepadatan kelas.
- Keindahan
Prinsip
keindahan ini berkenaan dengan usaha guru menata ruang kelas yang menyenangkan
dan kondusif bagi kegiatan belajar. Ruangan kelas yang indah dan menyenangkan
dapat berengaruh positif pada sikap dan tingkah laku siswa terhadap kegiatan
pembelajaran yang dilaksanakan.
Penyusunan
dan pengaturan ruang belajar hendaknya memungkinkan anak duduk bekelompok dan
memudahkan guru bergerak secara leluasa untuk membantu dan memantau tingkah
laku siswa dalam belajar.
Dalam pengaturan
ruang belajar, hal-hal berikut perlu diperhatikan menurut Conny Semawan,dkk.
(udhiezx.wordpress: 3) yaitu:
Ukuran
bentuk kelas
Bentuk serta
ukuran bangku dan meja
·
Jumlah siswa dalam kelas
·
Jumlah siswa dalam setiap kelompok
·
Jumlah kelompok dalam kelas
·
Komposisi siswa dalam kelompok (seperti siswa yang
pandai dan kurang pandai, pria dan wanita).
Berkaitan
dengan penataan ruang kelas belajar maka pada penulisan makalah ini hanya
berkaitan dengan pengelolaan kelas berupa penempatan tempat duduk siswa saja.
·
Tempat Duduk Siswa
Tempat duduk
merupakan fasilitas atau barang yang diperlukan oleh siswa dalam proses
pembelajaran terutama dalam proses belajar di kelas di sekolah formal.tempat
duduk dapat mempengaruhi proses pembelajaran siswa, bila tempat duduknya bagus,
tidak terlalu rendah, tidak terlalu besar, bundar, persegi empat panjang,
sesuai dengan keadaan tubuh siswa. Maka siswa akan merasa nyaman dan dapat
belajar dengan tenang.
Bentuk dan
ukuran tempat yang digunakan bermacam-macam, ada yang satu tempat duduk dapat
di duduki oleh seorang siswa, dan satu tempat yang diduduki oleh beberapa orang
siswa. Sebaiknya tempat duduk siswa itu mudah di ubah-ubah formasinya yang
disesuaikan dengan kebutuhan kegiatan pembelajaran. Untuk ukuran tempat
dudukpun sebaiknya tidak terlalu besar ataupun terlalu kecil sehingga mudah
untuk diubah-ubah dan juga harus disesuaikan dengan ukuran bentuk kelas.
Sebenarnya
banyak macam posisi tempat duduk yang bias digunakan di dalam kelas seperti
berjejer ke belakang, bentuk setengah lingkaran, berhadapan, dan sebagainga.
Biasanya posisi tempat duduk berjejer kebelakang digunakandalam kelas dengan
metode belajar ceramah. Dan untuk metode diskusi dapat menggunakan posisi
setengah lingkaran atau berhadapan. Dan sebagai alternatif penataan tempat
duduk dengan metode kerja kelompok atau bahkan bentuk pembelajaran kooperatif,
maka menurut Lie (2007: 52) ada beberapa model penataan bangku yang biasa
digunakan dalam pembelajaran kooperatif, diantaranya seperti:
·
Meja tapal kuda, siswa bekelompok di ujung meja
·
Penataan tapal kuda, siswa dalam satu kelompok
ditempatkan berdekatan
·
Meja Panjang
·
Meja Kelompok, siswa dalam satu kelompok ditempatkan
berdekatan
·
Meja berbaris, dua kelompok duduk berbagi satu meja
Dan masih
ada beberapa bentuk posisi tempat duduk yang dapat diterapkan dalam
pembelajaran kooperatif ini.
Dalam
memilih desain penataan tempat duduk perlu memperhatikan jumlah siswa dalam
satu kelas yang kan disesuaikan pula dengan metode yang akan digunakan.
Hal yang
tidak boleh kita lupakan bahwa dalam penataan tempat duduk siswa tersebut guru
tidak hanya menyesuaikan dengan metode pembelajaran yang digunakan saja. Tetapi
seorang guru perlu mempertimbangkan karakteristik individu siswa, baik dilihat
dari aspek kecerdasan, psikologis, dan biologis siswa itu sendiri. Hal ini
penting karena guru perlu menyusun atau menata tempat duduk yang dapat
memberikan suasana yang nyaman bagi para siswa.
Penempatan
siswa kiranya harus mempertimbangan pula pada aspek biologis seperti, postur
tubuh siswa, dimana menempatkan siswa yang mempunyai tubuh tinggi dan atau
rendah. Dan bagaimana menempatkan siswa yang mempunyai kelainan dalam arti
secara psikologis, misalnya siswa yang hiper aktif, suka melamun, dll
Tidak ada komentar:
Posting Komentar